0 blogger-facebook
Biografi DR Abdul Qadeer Khan - Ilmuwan Ditakuti AS - AS dan negara barat menyebut ancaman yang disebabkan oleh Dr Abdul Qadeer (AQ) Khan ini, bisa setara dengan Adolf Hitler atau Joseph Stalin, karena kemampuannya di bidang nuklir. Intelejen barat pernah menganggap remeh kemampuan Abdul Qadeer Khan. Tapi setelah tiga puluh tahun membangun Pakistan hingga memiliki kemampuan nuklir, barat dan AS menjadi khawatir. Khan kemudian disebut sebagai broker teknologi yang bisa membahayakan dunia. Ilmuwan ini disebut telah menjual rahasia teknologi nuklir ke Iran, Korea Utara, Libya dan kemungkinan ke negara lain. Tekanan diplomatik akhirnya memaksa presiden Pakistan Pervez Musharraf menjadikan Khan tahanan rumah.
Biografi DR Abdul Qadeer Khan - Ilmuwan Ditakuti AS
The Nuclear Jihadist menuliskan perjalanan Khan secara detail. Suami istri Frantz dan Collins yang menulis laporan itu menghabiskan empat tahun perjalanan ke seluruh dunia, mewawancari pejabat intelejen dan mantan teman dan kolega Khan.

Saat perang berdarah 1947, Khan muda meninggalkan keluarganya di Bhopal India ke negara muslim Pakistan. Kekerasan yang dilihatnya selama di perjalanan dan penderitaan yang dialami, menimbulkan kemarahan besar pada India.

Setelah mengecap pendidikan di Jerman dan menikahi wanita Belanda, Khan mendapat kerja di perusahaan Belanda yang berhubungan dengan pengayaan uranium. Sebuah proses untuk menghasilkan energi nuklir, yang dengan mudah juga dapat diubah menjadi senjata nuklir.

Frantz and Collins menggambarkan pasukan Pakistan yang gagal merdeka dari India pada 1965 membuat kebencianKhan makin memuncak. Khan bertekad mengubah politik Pakistan seperti ditulis dalam biografinya yakni ingin membuat Pakistan sangat kuat dan tidak akan mengalami trauma dikuasai India.

Beruntung sekali waktu kembalinya Khan dari Belanda ke Pakistan berbarengan dengan pengembangan nuklir India. Saat India memiliki kemampuan nuklir pada 1974, tidak ada alasan untuk melarang Pakistan memiliki kemampuan serupa, bom harus dengan bom.

Tapi saat Khan tida di Pakistan, masa depan nuklir negara itu sedang terancam. Kanada telah menghentikan pasokan spare part untuk reaktor nuklir di Karachi dan Prancis mendapat tekanan internasional untuk membatalkan rencana penjualan pabrik pemrosesan ke Pakistan. Hal itu membuka peluang Khan dan menjadikannya sebagai pahlawan.

Dengan sepengetahuan koleganya, dia membawa cetak biru, foto dan daftar pemasok. Kemudian bersama istri dan anak perempuannya kembali ke Pakistan untuk membangun kemampuan bom nuklir Pakistan.

Dia kemudian berhasil membuat bom nuklir pada akhir 1980 di luar perkiraan ahli barat. Para pakar menggambarkan Pakistan pada masa itu untuk membuat jarum jahit atau sepeda berkualitas bagus saja dianggap tidak mampu, apalagi membuat teknologi tinggi untuk pengayaan uranium.

Jihadist menyebut Khan membangun jaringan pasar gelap untuk menjual teknologi rahasia nuklir Pakistan ke negara semacam Iran, Libya, Korea utara juga negara yang tidak diketahui. Jihadist juga menyebut ilmuwan nuklir Pakistan ini bertemu dengan Osama bin Laden untuk membuat bom.

Referensi :

- http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4389205
- http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/10/biografi-dr-abdul-qadeer-khan-ilmuwan.html

Read More »

0 blogger-facebook
Biografi KH Zainuddin MZ | Da'i Sejuta Ummat - Siapa yang tidak kenal dengan da'i yang satu ini, dengan suara khasnya yang begitu mencirika seorang pendai dan keilmuannya dalam agama telah membawa penda'i ini dikenal semua kalangan, tak heran kalau beliau di gelar da'i sejuta ummat.

Kiai Haji Zainuddin Hamidi atau K.H. Zainuddin MZ lahir di Jakarta, 2 Maret 1952, Zainuddin merupakan anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Udin -nama panggilan keluarganya- suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. ‘Kenakalan’ berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato).
Biografi KH Zainuddin MZ

Biografi KH Zainuddin MZ

Biografi KH Zainuddin MZ

Biografi KH Zainuddin MZ


Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir. Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu ummat, maka tak salah kalau pers menjulukinya ‘Da'i Sejuta Umat’. Suami Hj. Kholilah ini semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok TautanNusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia. Sejak itu, da’i yang punya hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah yang disebut "Nada dan Dakwah".

Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka’bah (PPP). Jabatannya pun bertambah, selain da’i juga sebagai politikus. Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PBNU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik sebagai kubu dalam NU.

Sebelum masuk DPP, dia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Lebih jauh lagi, berkat kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes, sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa partai Islam itu jauh-jauh hari (sejak Pemilu 1977) sudah memanfaatkannya sebagai vote-getter. Bersama Raja Dangdut Rhoma Irama, Zainuddin berkeliling berbagai wilayah mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah -sebelum berganti gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan memengaruhi dominasi Golkar. Tak ayal, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas. Totalitas Zainuddin untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama, secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.

Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB NU itu salah seorang deklarator PPP. Pada 20 Januari 2002 K.H. Zainudiin M.Z. bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Zainuddin MZ menjabat sebagai Ketua umum PBR sampai tahun 2006. Zainuddin kembali fokus untuk menebarkan dakwah dan kembali berada ditengah-tengah umat.

Pada 2010, KH Zainuddin MZ dituduh oleh seorang gadis bernama Aida Saskia yang mengaku bahwa dirinya punya hubungan dekat dengan Zainuddin. Kasus ini masih dalam penyelidikan. K.H. Zainudin MZ memberikan klarifikasi akan ketidakbenaran yang dituduhkan kepadanya itu melalui program Tokoh di tvOne. Zainuddin MZ meninggal dunia pada 5 Juli 2011 dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina, karena serangan jantung dan gula darah. Beliau meninggal setelah sarapan bersama keluarga di rumahnya Gandaria I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Referensi :

- http://id.wikipedia.org/wiki/Zainuddin_MZ
- http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/09/biografi-kh-zainuddin-mz-dai-sejuta.html

Read More »

0 blogger-facebook
Perjalanan | Biografi Bilal Bin Rabah - Bilal bin rabah terkenal karena suaranya yang tiada bandingan ketika mengumandangkan azan. Dia sebenarnya hanya seorang hamba atau budah habsyah, akan tetapi karena keimanannya yang kuat laksana karang tak lekang oleh badai, maka keberadaan dia sungguh dalam ketinggian derajat disisi Allah. Lantas, bagaimana sejarah dan lika liku perjalanan hidupnya, Mari kita simak biografi bilal bin Rabah.

Bilal Bin Rabah Al-Habasyi lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abdud-dar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.
Biografi Bilal Bin Rabah
Ketika Makah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci-maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!” Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas2. Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.” Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.” Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Bilal bin Rabah tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muadzin) dalam sejarah Islam.
Biografi Bilal Bin Rabah
Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanyadiberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal bin Rabah menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Biografi Bilal Bin Rabah
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama “sang pengumandang panggilan langit”, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Makah. Sementara Al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.” Al-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.” Bilal menjadi muadzin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, Ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.” Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.” Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiyallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan adzan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan adzan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

Referensi :
- http://abihumaid.wordpress.com/2008/06/18/bilal-bin-rabah-al-habasyi-wafat-20-h641-m/
- http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/09/biografi-bilal-bin-rabah-muazin.html

Read More »

0 blogger-facebook
 Biografi Stan Shih - Pendiri Acer Biografi Stan Shih - Pendiri Acer | Stan Shih atau Shi Zhenrong dilahirkan pada pada tanggal 8 Desember 1944 Di Taiwan. Stan Shih dikenal sebagai Pendiri dari Perusahaan komputer Acer, Ia juga adalah ketua dari grup perusahaan Acer yang produknya cukup dikenal di kalangan orang Indonesia, mulai dari laptop, netbook, komputer, LCD dan lain-lain. Ia dilahirkan di masa-masa akhir pendudukan Jepang di Taiwan. Ia terlahir dari keluarga yang miskin karena menderita akibat dari kependudukan dari Jepang. Stan Shih merupakan model klasik bagi figur-figur di Taiwan. Stan kecil telah membantu ibunya yang menjanda untuk berjualan telur. Sifat mandiri dan naluri wirausaha mulai terbentuk dari kegiatan membantu ibunya.

Setelah lulus dari Sekolah menengah atas di taiwan, Stan Shih kemudian masuk di Universitas National Jiao Tong University di Taiwan, kemudian setelah lulus dan menerima gelar sarjana dan master dalam jurusan Teknik Elektro di salah satu universitas di Taiwan yang bernama National Jiao Tong University, Stan bersama istrinya Carolyn Yeh mendirikan Multitech pada tahun 1976 kemudian mengubah namanya menjadi Acer pada tahun 1987. Lambat laun perusahaan yang ia rintis berkembang pesat sebagai sebuah perusahaan komputer ternama di Taiwan dan akan menjadi salah satu perusahan komoputer terbesar di dunia, kemudian pada pertengahan tahun 1990an, Stan sukses menjadikan Acer sebagai salah satu merek papan atas dalam dunia dalam hal produk PC (Personal Computer) yang mulai bersaing dengan raksasa Jepang seperti NEC dan Toshiba, dan pesaing dari kawasan Eropa dan Amerika seperti Dell dan Hewlett-Packard.

Yang mencenangkan saat perusahaanya mulai berkembang pesat sebagai salah satu perusahaan komputer ternama di dunia, Stan memilih untuk pensiun pada pada tahun 2004. Bagi sebagaian orang, Stan dianggap terlalu cepat pensiun di usianya yang 60 tahun karena dalam Budaya orang Tionghoa, seorang Tionghua akan berusaha terus berkerja sampai kondisi tidak sanggup lagi. Stan tidak setuju dengan hal itu dan malah hendak menjadikan dirinya sebagai panutan. Satu perusahaan harus digerakkan oleh darah-darah baru yang segar dan bertenaga dan dapat mengikuti perkembangan jaman. Perusahaan Acer masih menganut gaya lama sehingga kurang agresif pada jajaran manajer level menengah sampai atas. Suksesi kepemimpinan perlu dilakukan kepada generasi yang lebih muda.
 Biografi Stan Shih - Pendiri Acer
Dalam perjalanan karirnya sebagai pengusaha konglomerat , Stan terkenal sangat memperhatikan karyawannya seperti layaknya keluarga sendiri dan melibatkan mereka kedalam pembagian keuntungan. Kehidupan Stanley dan istrinya sendiri termasuk sederhana , berbeda dengan keluarga konglomerat pada umumnya. Gaya dan sikapnya dinilai sebagai gaya klasik khas Taiwan : santai , langsung , kuat dan humoris.

Grup Acer yang ia dirikan mempekerjakan 39.000 orang di lebih dari 100 negara. Pendapatannya pada 2002 adalah US$12,9 miliar. Kantor pusatnya terletak di Kota Sijhih, Taipei County, Taiwan. Pasaran Acer di Amerika Utara telah merosot dalam beberapa tahun terakhir sementara pasar Eropanya terus meningkat. Kesuksesannya di Eropa sebagian karena pensponsoran dari Tim Formula 1 Ferrari dan bekas tim F1, Prost Grand Prix.

Setelah itu, Acer sekarang pun sudah menjadi perusahaan dunia yang sangat di perhitungkan dalam PC,Notebook,Laptop dan juga acer sekarang pun sudah merabah ke Ponsel yang berfokus di ponsel Pintar. Ini adalah perjuanggan seseorang yang dulunya perusahaan biasa sekarang sudah masuk perusahaan nomor 1 di dunia.Barangkali pendiri acer melewati naik turun penjualan, bekerja keras untuk bagaimana acer itu bisa di perhitungkan di dunia komputer, dan mereka telah menikmati hasilnya seperti sekarang.

Referensi:

- http://en.wikipedia.org/wiki/Stan_Shih
- http://id.wikipedia.org/wiki/Acer_(perusahaan)

Read More »

0 blogger-facebook
Biografi Pierre Omidyar - Pendiri eBay.com | Tahukah anda ebay.com. Ini merupakan salah satu situs jual beli online terbesar dijagat maya setelah amazon.com. Kali ini kita akan membicarakan tentang biografi dia sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh didunia karena andilnya dalam membangun ebay.com.
Biografi Pierre Omidyar - Pendiri eBay.com
Pierre Morad Omidyar atau Pierre Omidyar dikenal sebagai founder atau pendiri dari Ebay.com yang merupakan situs jual beli atau lelang online terbesar di dunia. Pierre Omidyar dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1967 di Paris, Perancis. Ia lahir dari keturunan pengusaha Iran dan Amerika. orangtua Pierre Omidyar berimigrasi dari Iran, dan telah dikirim oleh kakek-neneknya untuk kuliah di sana. Ibunya Elahé Mir-Djalali Omidyar, yang telah mendapat gelar doktor di bidang linguistik di Sorbonne. Ayahnya adalah dokter bedah, Keluargan Pierre Omidyar pindah ke AS saat Omidyar berusia enam tahun. Tumbuh di Washington, DC, minat Pierre pada dunia komputer dimulai di Sekolah Potomac, yang kemudian semakin meningkat ketika ia di kelas 9. Dia menghadiri St Andrew's Episcopal School di Potomac, Maryland. Ia lulus dari St Andrew pada tahun 1984,
Biografi Pierre Omidyar - Pendiri eBay.com
Pierre Omidyar yang berdarah Iran kemudian mengasah kemampuannya dalam programming komputer disekolah dan diluar sekolah. Kemudian, berawal dari keinginannya untuk membantu perpustakaan disekolah menengah tempatnya belajar, Omidyar menyusun katalog online, ia pun menuai keberuntungan. Rupanya, dari proyek sukarela inilah karir cemerlang Omidyar berawal. Katalog online ini kemudian memuluskan jalannya menuju profesi ahli pemrograman komputer.

Omidyar lulus kuliah dari Universitas Tufts pada tahun 1988 dengan gelar B.S (Bachelor of Science) di bidang ilmu komputer. Awal karirnya mulai terlihat ketika tahun 1991 bergabung dengan perusahaan Claris, sebuah anak perusahaan Apple Computer. Di sana ia menjabat sebagai consumer software engineer. Pada tahun 1994, ia mendirikan Inc. Development Corporation yang kemudian mengalami dan diberi nama eShop. Pada saat itu eShop adalah pimpinan teknologi perangkat lunak perdagangan berbasis internet. Pada tahun 1996, perusahaan ini diakuisisi oleh Microsoft.

Ketika Omidyar berusia 28, ia duduk selama liburan panjang akhir pekan untuk menulis kode komputer yang asli yang akhirnya menjadi Superbrand internet situs lelang eBay. Seperti halnya karir Omidyar dalam dunia programming, ebay pun didirikannya dengan niat untuk membantu teman dekat untuk mendapatkan pembeli untuk produk yang dijualnya. Sekali lagi, niat isengnya untuk membantu teman, kemudian berubah menjadi ladang bisnis prospektif. Walaupun awalnya peluncuruan bisnis eBay merupakan uji coba terhadap bisnis yang berbasis internet, hal ini justru menjadi awal keberuntungan bagi Omidyar sehingga situs lelang internet itu kini makin populer. Situs ini diluncurkan pada Hari Buruh, Senin, 4 September 1995, sebagai "Lelang Web", itu adalah host di situs Omidyar yang telah diciptakan untuk informasi mengenai virus ebola.

Kata 'eBay' dibuat oleh Omidyar ketika ia mengatakan bahwa pilihan pertamanya untuk situs web-nya, 'echobay', telah terdaftar. Tidak ingin melakukan perjalanan kedua untuk Sacramento, ia datang dengan 'eBay. "Cerita yang sering diulang bahwa eBay didirikan untuk membantu perdagangan tunangan Omidyar's dispenser permen Pez itu dibuat oleh manajer PR pada tahun 1997 untuk menarik minat media. Hal itu terungkap pada tahun 2002 buku Adam Cohen dan dikonfirmasi oleh eBay. Lelang Web kemudian berganti nama menjadi "eBay". Layanan ini gratis pada awalnya, tetapi mulai pengisian untuk menutupi biaya penyedia layanan internet.

Jeffrey Skoll bergabung dengan perusahaan pada tahun 1996. Pada Maret 1998, Meg Whitman dibawa masuk sebagai Presiden dan CEO dan terus menjalankan perusahaan sampai dengan Januari 2008 ketika dia mengumumkan pensiun. Pada bulan September 1998, eBay meluncurkan penawaran umum sukses, membuat kedua milyarder Omidyar dan Skoll. Pada Juli 2008, 178 juta saham Omidyar's eBay yang bernilai sekitar $ 4450000000. Omidyar juga merupakan investor dari Montage Resort & Spa di Laguna Beach, California.

Pada tahun 2010, Omidyar meluncurkan layanan berita online di Honolulu disebut Beat sipil yang mencakup urusan sipil di Hawaii. Sementara itu, dalam mengelola eBay, Omidyar tak pernah lepas dari nilai-nilai baik. Ia percaya bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki keunggulan yang bisa diberikan kepada orang lain. Selain itu dalam menjalankan bisnis eBay, Omidyar memperlakukan setiap pribadi yang terlibat dengan sebaik mungkin. Omidyar memiliki cita-cita agar para penjual dan pembeli yang ada bersama-sama membentuk sebuah dunia perdagangan online yang berkesinambungan, seperti perkembangan eBay sekarang ini.

Pierre Omidyar
kemudian mendirikan Omidyar Network yang merupakan sebuah perusahaan investasi filantropi didedikasikan untuk memanfaatkan kekuatan pasar untuk menciptakan kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka. Didirikan pada tahun 2004 oleh pendiri eBay Pierre Omidyar dan istrinya Pam, organisasi melakukan investasi di dan membantu organisasi inovatif skala untuk mengkatalisis perubahan ekonomi, sosial, dan politik. Sampai saat ini, Omidyar Network telah berkomitmen lebih dari $ 270 juta untuk perusahaan untuk-laba dan organisasi nirlaba yang mendorong kemajuan ekonomi dan mendorong partisipasi individu di bidang investasi beberapa, termasuk keuangan mikro, hak milik, transparansi pemerintah, dan media sosial. Kekayaan Omidyar bisa mencapai US$ 1,6 miliar berkat lonjakan harga saham eBay, naik 115% tahun lalu. Penjualan eBay 2009 mencapai US$8,7 miliar dengan 84 juta pengguna. eBay menyelesaikan pembelian 70% dari perusahaan telepon internet Skype November 2009. Dari kesuksesan eBay inilah yang menjadikan Pierre Omidyar menjadi salah satu milyarder abad 21.

Referensi:

- http://id.wikipedia.org/wiki/Pierre_Omidyar
- http://jundul.wordpress.com
- http://kolom-biografi.blogspot.com

Read More »

0 blogger-facebook
Habib Mundzir Al-Musawa Saat Jumpa Habib Umar bin Hafidz - Kisah ini bermula saat perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa pertama kalinya dengan sang Guru Mulia al-Habib Umar bin Hafidz. Berikut ini adalah penuturan langsung al-habib Mundzir bin Fuad al-Musawa:

“Kebahagiaan dan kesejukan rahmatNya semoga selalu menaungi hari-hari Anda, Saudaraku yang kumuliakan. Saya adalah seorang anak yang sangat dimanja oleh ayah saya. Ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yang lain. Namun di masa baligh justru saya yang putus sekolah. Semua kakak saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka dan kecewa pada saya karena saya malas sekolah. Saya lebih senang hadir Majelis Maulid al-Marhum al-Arif Billah al-Habib Umar bin Hud Alattas dan Majelis Taklim Kamis sore di Empang Bogor, masa itu yang mengajar adalah al-Marhum al-Allamah al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dengan kajian kitab Fathul Baari.
Habib Mundzir Al-Musawa Saat Jumpa Habib Umar bin Hafidz
Sisa hari hari saya adalah bershalawat 1000 siang 1000 malam, dzikir beribu kali, dan puasa Nabi Daud As, dan shalat malam berjam-jam. Saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu.

Ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal di Makkah, guru beliau adalah al-Marhum al-Allamah al-Habib Alwi al-Malikiy, ayah dari al-Marhum al-Allamah as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Malikiy. Ayah saya juga sekolah di Amerika Serikat, dan mengambil gelar sarjana di New york University.

Almarhum ayah sangat malu, beliau mumpuni dalam bidang agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia. Beliau berkata pada saya: “Kau ini mau jadi apa?, jika mau agama maka belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai ke luar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia maka tuntutlah sampai ke luar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama, aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa-apa dari kebanggaan orang yang sangat menyanjung negeri Barat, walau aku sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia kecuali dengan kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu.”

Maka ayahanda al-Marhum hidup dalam kesederhanaan di Cipanas, Cianjur, Puncak, Jawa barat. Beliau lebih senang menyendiri dari Ibukota, membesarkan anak-anaknya, mengajari anak-anaknya mengaji, ratiban, dan shalat berjamaah.

Namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan, dunia tidak akhiratpun tidak. Namun saya sangat mencintai Rasul Saw., menangis merindukan Rasul Saw., dan sering dikunjungi Rasul Saw. dalam mimpi. Rasul Saw. selalu menghibur saya jika saya sedih.

Suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau Saw., dan berkata: “Wahai Rasulullah Saw. aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa denganmu, ataukan matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini.”
Rasul Saw, menepuk bahu saya dan berkata: “Mundzir, tenanglah. Sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa denganku.” Maka saya terbangun.
Akhirnya karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil di depan rumah berupa 5 kamar saja dan disewakan pada orang yang baik-baik untuk biaya nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya.
Habib Mundzir Al-Musawa Saat Jumpa Habib Umar bin Hafidz
Setiap malam saya jarang tidur, duduk termenung di kursi penerimaan tamu yang cuma meja kecil dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu, sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan shalat malam. Demikian malam-malam saya lewati, Siang hari saya puasa Nabi Daud As., dan terus dilanda sakit asma yang parah, maka itu semakin membuat ayah bunda kecewa. Berkata ibunda saya: “Kalau kata orang, jika banyak anak, mesti ada satu yang gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?”.

Saya terus menjadi pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu.
Sampai semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok, maka saya pesantren di al-Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, namun hanya dua bulan saja. Saya tidak betah dan sakit-sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang.

Ayah makin malu, bunda makin sedih, lalu saya prifat saja kursus bahasa Arab di kursus bahasa Arab Assalafi, pimpinan al-Marhum al-Habib Bagir Alattas, ayahanda al-habib Hud Alattas yang kini sering hadir di Majelis kita di al-Munawar.
Saya harus pulang pergi Jakarta-Cipanas yang saat itu ditempuh dalam 2-3 jam, dengan ongkos sendiri. Demikian setiap dua kali seminggu, ongkos itu ya dari losmen tersebut. Saya selalu hadir Maulid di al-Marhum al-Arif Billah al-Habib Umar bin Hud Alattas yang saat itu di Cipayung. Jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan-hujanan pula. Sering saya datang ke Maulid beliau malam Jumat dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu di rumah beliau, karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yang kotor dan basah menginjaknya. Saya terpaksa berdiri saja berteduh di bawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu-tamu berdatangan. Maka saya duduk di luar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga.

Saya sering pula ziarah ke Luar Batang, makam al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Suatu kali saya datang lupa membawa peci, karena datang langsung dari Cipanas. Maka saya berkata dalam hati: “Wahai Allah, aku datang sebagai tamu seorang waliMu, tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas-pasan dan aku lapar. Kalau aku beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang.”
Maka saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual peci. saya membelinya dan masuk berziarah sambil membaca Yaasin untuk dihadiahkan pada almarhum. Saya menangisi kehidupan saya yang penuh ketidaktentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh. Mereka berkata: “Kakak-kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan pula New York University, kok anaknya centeng losmen.” Maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaranpun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh.

Walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati: “Wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang shalih di sisi Allah, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang.” Lalu dalam saya merenung, datanglah rombongan teman-teman saya yang pesantren di al-Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf dengan satu mobil. Mereka senang jumpa saya, sayapun ditraktir makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Allah. Lalu saya ditanya dengan siapa dan mau ke mana. Saya katakan saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di Pasar Sawo, Kebon Nanas, Jakarta Selatan. Mereka berkata: “Ayo bareng saja, kita antar sampai Kebon Nanas.” Maka sayapun semakin bersyukur pada Allah, karena memang ongkos saya tak akan cukup jika pulang ke Cipanas.

Saya sampai larut malam di kediaman bibi dari Ibu saya, di Pasar Sawo Kebon Nanas. Lalu esoknya saya diberi uang cukup untuk pulang, sayapun pulang ke Cipanas. Tak lama saya berdoa: “Wahai Allah, pertemukan saya dengan guru dari orang yang paling dicintai Rasul Saw.” maka tak lama saya masuk pesantren al-Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi timur. Di setiap saat Mahal Qiyam Maulid saya menangis dan berdoa pada Allah untuk rindu pada Rasul Saw., dan dipertemukan dengan guru yang paling dicintai Rasul Saw.

Dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia al-Musnid al-Allamah al-Habib Umar bin Hafidz ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pada tahun 1994 M. Selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dengan tajam, saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu. Lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama al-Marhum al-Habib Umar Maulakhela, maka Guru Mulia memanggil al-Habib Nagib bin Syeikh Abubakar. Guru Mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadhramaut Yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau. Guru saya al-Habib Nagib bin Syeikh Abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa Arab, murid baru dan belum tahu apa-apa. Mungkin beliau salah pilih? Maka Guru Mulia menunjuk saya, “Itu anak muda yang pakai peci hijau itu, itu yang saya inginkan.”

Maka Guru saya al-Habib Nagib memanggil saya untuk jumpa beliau. Lalu Guru Mulia bertanya dari dalam mobil yang pintunya masih terbuka: “Siapa namamu?”, dalam bahasa Arab tentunya. Saya tak bisa menjawab karena tak faham. Maka guru saya al-Habib Nagib menjawab: “Kau ditanya siapa namamu,” Maka saya jawab nama saya, lalu Guru Mulia tersenyum.

Keesokan harinya saya jumpa lagi dengan Guru Mulia di kediaman al-Marhum al-habib Bagir Alattas. Saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid Guru Mulia, maka guru mulia mengangguk-angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka. Lalu guru mulia melihat saya di kejauhan, lalu beliau berkata pada al-Marhum al-Habib Umar Maulakhela: “Itu, anak itu jangan lupa dicatat, ia yang pakai peci hijau itu.”

Guru mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur guru saya al-Habib Nagib bin Syekh Abubakar, seraya berkata: “Wahai Mundzir, kau harus siap-siap dan bersungguh-sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap.” Dua bulan kemudian datanglah al-Marhum al-Habib Umar Maulakhela ke pesantren, dan menanyakan saya. Almarhum al-Habib Umar Maulakhela berkata pada al-Habib Nagib: “Mana itu Mundzir anaknya Habib Fuad al-Musawa? Dia harus berangkat Minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya.”

Maka al-habib Nagib berkata bahwa saya belum siap, namun al-Marhum al-Habib Umar Maulakhela dengan tegas menjawab: “Saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini permintaan al-Habib Umar bin Hafidz, ia harus berangkat dalam dua minggu ini bersama rombongan pertama.”

Saya persiapkan pasport dll, namun ayah saya keberatan, ia berkata: “Kau sakit-sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman di sana, namun ke Hadhramaut itu ayah tak ada kenalan, di sana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit? Siapa yang menjaminmu?"saya pun datang mengadu pada al-Marhum al-Arif Billah al-Habib Umar bin Hud Alattas. Beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata: “Katakan pada ayahmu, saya yang menjaminmu, berangkatlah."

Saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat. Saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dengan berat tetap melangkah ke mobil travel yang akan saya naiki. Namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh di sana ayah saya berdiri di pagar rumah dengan tangis melihat keberangkatan saya. Beliau melambaikan tangan tanda ridho. Rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dengan saya, saya berangkat dengan air mata sedih.

Saya sampai di Tarim, Hadhramaut, Yaman di kediaman Guru Mulia. Beliau mengabsen nama kami. Ketika sampai ke nama saya dan beliau memandang saya dan tersenyum indah.
Tak lama kemudian terjadilah perang Yaman Utara dan Yaman Selatan. Kami di Yaman Selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kamipun harus berjalan kaki ke mana-mana menempuh jalan 3-4 km untuk taklim karena biasanya dengan mobil milik Guru Mulia namun di masa perang pasokan bensin sangat minim.
Suatu hari saya dilirik oleh Guru Mulia dan berkata: “Namamu Mundzir (mundzir = pemberi peringatan)”, saya mengangguk. Lalu beliau berkata lagi: “Kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak.”

Maka saya tercenung dan terngiang-ngiang ucapan beliau: “Kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak”, saya akan punya jamaah? Saya miskin begini bahkan untuk mencuci bajupun tak punya uang untuk beli sabun cuci.

Saya mau mencucikan baju teman saya dengan upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik: “Cucianmu tidak bersih, orang lain saja yg mencuci baju ini.” Maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya bekas mereka mencuci, air sabun cuci yang mengalir itulah yang saya pakai mencuci baju saya.
Hari demi hari Guru Mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri. Saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada Guru Mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau.
Dua tahun di Yaman ayah saya sakit, dan telepon, beliau berkata: “Kapan kau pulang wahai anakku? aku rindu.”
Saya jawab: “Dua tahun lagi insya Allah ayah.”
Ayah menjawab dengan sedih di telepon: “Duh masih lama sekali,” telepon ditutup, 3 hari kemudian ayah saya wafat.

Saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dengan beliau, dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan air mata. Duhai kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau rahimahullah.

Tak lama saya kembali ke Indonesia, tepatnya pada tahun 1998, mulai dakwah sendiri di Cipanas, namun kurang berkembang. Maka saya mulai dakwah di Jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah pindah dari rumah ke rumah murid sekaligus teman saya. Majelis malam Selasa saat itu masih berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Mereka murid-murid yang lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti.
Setibanya mereka yang cuma belasan saja, mereka berkata: “Nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya”, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai Maulid Dhiyaullami’, Jamaah makin banyak, mulai tak cukup di rumah-rumah, maka pindah-pindah dari musholla ke musholla. Jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah-pindah dari masjid ke masjid.

Lalu saya membuka majelis di hari lainnya, dan malam Selasa mulai ditetapkan di masjid Almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata: “Jamaah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insya Allah,” jamaah mengaminkan. Mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dan lain sebagainya. Maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan Majelis Habib Mundzir saja, saya menolak, ya sudah, Majelis Rasulullah Saw saja.

kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Mataram, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Singapura, Malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di Majelis Haul Badr kita di Monas, yaitu Profesor dari Jepang yang menjadi dosen di sana. Dia datang ke Indonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dengan saya, karena ia pengunjung setia web ini, khususnya yang versi english.

Sungguh agung anugerah Allah Swt. pada orang yang mencintai Rasulullah Saw, yang merindukan Rasulullah Saw. itulah awal mula hamba pendosa ini sampai Majelis ini demikian besar, usia saya kini 38 tahun jika dengan perhitungan hijriah, dan 37 tahun jika dengan perhitungan masehi, saya lahir pada Jumat pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23 Februari 1973 M.
Perjanjian jumpa dengan Rasul Saw. adalah sebelum usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1431 H, mungkin sebelum sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dengan Rasul Saw. Namun apakah Allah Swt. akan menambah usia pendosa ini? Wallahu a’lam.
Salam rindu terdalam untuk anda.

Ditulis ulang oleh Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 16 Muharram 1434 H
Sumber: http://biografiulamahabaib.blogspot.com

Read More »

0 blogger-facebook
Biografi KH Muhammad Arifin Ilham - Anda sering mendengar ceramah nya dengan suara serak-serak basah. Suara yang berkesan menuntun kita untuk menyelami dalamnya makna zikir, Tapi apakah anda tahu bagaimana sejarah atau perjalanan hidupnya? Kali ini tgk boy akan mengajak anda untuk menelusuri biografi sang Kiyai ini yaitu Biografi KH Muhammad Arifin Ilham.

KH Muhammad Arifin Ilham atau di kenal sebagai uztadz Arifin Ilham lahir di Banjarmasin, 8 Juni 1969, Arifin Ilham adalah anak kedua dari lima bersaudara, dan dia satu-satunya anak lelaki. Ayah Arifin masih keturunan ketujuh Syeh Al-Banjar, ulama besar di Kalimantan, sementara ibunya, Hj. Nurhayati, kelahiran Haruyan, Barabay, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Setahun setelah menikah, pasangan ini melahirkan putri pertama mereka tahun 1967. Karena anak pertama mereka perempuan, betapa bahagianya mereka ketika anak keduanya adalah laki-laki.
Biografi arifin ilham

Nurhayati mengatakan bahwa saat hamil anak keduanya itu, ia merasa biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda khusus. Hanya, berbeda dengan keempat putrinya, saat dalam kandungan, bayi yang satu ini sangat aktif. Tendangan kakinya pun sangat kuat, sehingga sang ibu acapkali meringis menahan rasa sakit.

Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1969 itu kemudian diberi nama Muhammad Arifin Ilham. Berbeda dengan keempat saudaranya yang lain, yang saat lahir berat mereka rata-rata 3 kilogram lebih, bayi yang satu ini beratnya 4,3 kilogram dengan panjang 50 sentimeter. “Anehnya, bayi itu sejak lahir sudah bergigi, yaitu di rahang bagian atasnya,” kenang Nurhayati.

Bayi itu selanjutnya tumbuh sehat. Usia setahun sudah bisa berjalan dan tak lama setelah itu ia mulai bisa berbicara. Setelah Siti Hajar, satu demi satu adik Arifin pun lahir. Yaitu, Qomariah yang lahir tanggal 17 Mei 1972 dan si bungsu Fitriani yang lahir tanggal 24 Oktober 1973.

Saat berusia lima tahun, Arifin dimasukkan oleh ibunya ke TK Aisyiah dan setelah itu langsung ke SD Muhammadiyah tidak jauh dari rumahnya di Banjarmasin. Arifin mengaku, saat masih di SD itu ia tergolong pemalas dan bodoh. “Kata orang Banjarmasin, Arifin itu babal. Arifin baru bisa baca-tulis huruf Latin setelah kelas 3,” kenang Arifin yang setiap kali berbicara tentang dirinya selalu menyebut namanya sendiri.

Di SD Muhammadiyah ini Arifin hanya sampai kelas 3, karena berkelahi melawan teman sekelasnya. Masalahnya, dia tidak rela ada salah seorang temannya yang berbadan kecil diganggu oleh teman sekelasnya yang berbadan cukup besar. Arifin kalah berkelahi karena lawannya jagoan karate. Wajahnya babak belur dan bibirnya sobek. Agar tidak berkelahi lagi, oleh ayahnya Arifin kemudian dipindahkan ke SD Rajawali.

Rumah tempat tinggal orang tua Arifin terletak di Simpang Kertak Baru RT 7/RW 9, kota Banjarmasin, tepat di sebelah rumah neneknya, ibu dari ibunda Arifin. Sebagai pegawai Bank BNI 46, ayahnya sering kali bertugas ke luar kota Banjarmasin, kadang-kadang sampai dua-tiga bulan. Ayah Arifin mengakui bahwa ia tidak banyak berperan mendidik kelima anaknya, sehingga akhirnya yang banyak berperan mendidik Arifin adalah istri dan ibu mertuanya. Arifin mengungkapkan bahwa cara mendidik kedua orang tua itu keras sekali. “Baik Mama maupun Nenek kalau menghukum sukanya mencubit atau memukul. Dua-duanya turunan, kalau nyubit maupun memukul keras dan sakit sekali,” canda ustad muda itu.
Biografi arifin ilham
Pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 8 Juni 1969, ini termasuk seorang penyayang binatang. Di rumah ibu angkatnya di Jakarta, ia banyak memelihara binatamg, antara lain burung hantu, kera, dan ayam kate.

Awal April 1997, ia diberi seekor ular hasil tangkapan warga kampung yang ditemukan di semak belukar. Karena kurang hati-hati Arifin digigit binatang melata ini. Namun, ia tidak menyadari kalau dirinya keracunan. Sewaktu dalam perjalanan dengan mengendari mobil, ia pun merasakan sesuatu yang tidak biasa, tubuhnya terasa panas, meradang, dan membiru.

Melihat keadaan Arifin yang demikian, ibu angkatnya Ny Cut mengambil alih kemudi, menuju rumah sakit terdekat. Namun, beberapa rumah sakit menolak dengan alasan peralatan medis yang tidak memadai. Bahkan sejumlah dokter di beberapa rumah sakit tersebut memvonis, umur Arifin tinggal satu persen. Karena sulitnya mendapatkan pertolongan selama 11 jam, keadaan Arifin makin gawat.

Detak jantungnya melemah. Melihat kondisi anak angkatnya yang makin parah, Ny Cut mencoba mendatangi RS Saint Carolus (Jakarta Pusat). Alhmadulilah pihak rumah sakit menerimanya. Arifin langsung ditempatkan di ruang ICU. Infus pun dipasang di tubuhnya. Untuk membantu tugas paru-paru, jantung, dan hatinya yang telah sangat lemah, dokter memasukkan beberapa batang selang ke mulutnya.

Dengan pertolongan Allah, setelah satu bulan lima hari pihak rumah sakit menyatakan ia telah melewati masa kritis dan memasuki masa penyembuhan. Walaupun kondisinya telah jauh lebih baik, Arifin mengalami perubahan pada suaranya. Menurut analisa dokter, hal ini disebabkan oleh pemasangan beberapa selang sekaligus dalam mulutnya untuk waktu yang cukup lama.

Tapi tidak ada yang mengetahui rencana Allah, justru dengan suaranya itu, Arifin menjadi lebih mudah dikenal para jamaah hanya dengan mendengar suaranya. Seperti diceritakan Arifin, selama masa kritis, ia mendapatkan pengalaman spiritual yang sangat luar biasa. Di alam bawah sadarnya ia merasa berada di sebuah kampung yang sangat sunyi dan sepi.

Setelah berjalan-jalan sekeliling kampung, ditemuinya sebuah masjid, yang kemudian dimasukinya. Di dalam masjid ternyata sudah menunggu tiga shaf jamaah dengan mengenakan pakaian putih. Salah satu jamaah kemudian memintanya memimpin mereka berzikir, mengingat Allah SWT.

Keesokan harinya ia kembali bermimpi. Hanya saja sedikit berbeda. Kali ini ia merasa berada di tengah kampung yang penduduknya berlarian ketakutan karena kedatangan beberapa orang yang dianggap sebagai jelmaan setan. Melihat kehadirannya, para penduduk pun berteriak dan meminta dirinya menjadi penolong mereka mengusir setan-setan tersebut.

Hari berikutnya ia kembali bermimpi. Kali ini ia diminta oleh seorang bapak untuk mengobati istrinya yang sedang kesurupan. Mendengar permintaan bapak tersebut, Arifin bergegas, tapi Allah berkehendak lain. Istrinya ternyata telah meninggal sebelum sempat ditolong Arifin. Berbekal pengalaman-pengalaman gaib yang ia alami, Arifin pun memantapkan hatinya untuk menjadi pengingat manusia agar tidak lupa berzikir.

Banyak kegiatan yang dilakukannya. Salah satu yang paling berkesan adalah memimpin zikir untuk para narapidana di Cipinang. Menurut Arifin, kegiatan ini memberikan dampak yang sangat dalam sehingga banyak di antara narapidana tidak sanggup membendung air matanya, menyesali dosa-dosanya.

Meskipun banyak hujatan, Arifin Ilham juga telah melakukan zikir di LP Nusakambangan, yang antara lain juga diikuti oleh Tommy Suharto. Tahun 1998, Arifin mengisi ceramah di sebuah rumah di kawasan Condet, Jakarta Timur. Di sinilah ia bertemu dengan Wahyuniati Al-Waly, seorang muslimah yang taat, yang kemudian menjadi pendampingnya.
Biografi arifin ilham
Tidak berapa lama setelah pertemuan itu, ia bermimpin di depan Ka'bah dengan Yuni berdiri disampingnya dengan menggunakan baju putih bersih. Dengan penasaran, pagi harinya ia menelpon Abah (panggilan Arifin untuk ayahnya), menanyakan perihal mimpinya. Abahnya mengartikan bahwa Yuni adalah jodoh yang diberikan Allah kepadanya. Maka keduanya pun naik ke pelaminan pada 28 April 1998.

Yuni yang ternyata adik kelasnya di Fisipol Unas menilai sosok suaminya sebagai seorang yang baik, romantis, penyayang, pintar, dan kuat landasan agamanya. Ketika ditanya jadual acaranya yang demikian padat, Arifin dengan merendah menyatakan, Alhamdulillah hingga kini ia masih diberikan kesempatan untuk selalu shalat tahajud tiap pukul tiga pagi hingga subuh.

Sekalipun ia tidur hanya sekitar tiga jam, tapi saat berada di kendaraan menuju tempat acara zikir ia menyempatkan diri untuk tidur di mobil. Menurut Arifin, acaranya sudah terisi hingga akhir Agustus mendatang. Ada satu hal yang dipegang oleh dai kelahiran Banjarmasih ini, yakni memegang janji.

Karenanya, tiga kali ia terpaksa menolak permintaan Sekretariat Negara agar berdakwah bersama Presiden Megawati. "Saya tidak mau kecewakan masyarakat yang telah jauh hari menunggu-nunggu kedatangan saya," ujarnya. Arifin mengaku, menjelang pemilu 2004 ini sudah ada parpol yang memintanya agar ia berkampanye untuk partai tersebut. Bahkan ada dari partai besar, yang menjamin bahwa ia nantinya paling sedikit akan menjadi anggota DPR.

"Tapi, saya ingin sebagai rantai (tali) tasbih, yang dapat menampung semua ummat", ujar dai yang tinggal di Depok sejak 1999 ini. Sikapnya untuk selalu menjadi 'rantai tasbih' itu ternyata 'berbuah manis'. Setiap acara zikir yang dipimpinnya selalu dipadati jamaah dari berbagai kalangan dan status. Minimal, pemandangan ini tampak ketika ia memimpin zikir di Masjid Al-Amr Bittaqwa di Perumahan Mampang Indah II, Depok, Ahad (4/5) lalu.

Sejak pukul 06.00 pagi, masjid yang hanya bisa menampung 500 orang itu sudah dipadati jamaah. Mereka yang hadir belakangan lalu ditampung di tenda-tenda sekitar masjid. Menjelang pukul 08.00, yang tampak adalah lautan manusia berwarna putih warna kopiah dan busana sebagian besar jamaah. Tepat pukul delapan, Arifin datang dan langsung menuju panggung di depan masjid.

Ia didampingi Presiden Partai Keadilan Dr Hidayat Nurwahid, mantan KASAD Jenderal (Purn) Harsono, Habib Abdurahman Semith yang datang bersama belasan kyai dari Semarang, ketua Jamiatul Muslimin Indonesia Habib Husein Alhabsji, dan sejumlah ulama lainnya. Berikutnya, selama dua jam, ribuan jamaah Majelis Zikir Az-Zikra, nama yang diberikan Arifin untuk majelisnya, hanyut dan histeris dalam ritual zikir.

Begitu syahdunya acara zikir ini, tidak peduli pengusaha, artis, sutradara, dan berbagai profesi yang datang ke acara itu dari berbagai tempat di Tanah Air, meneteskan air mata. Bahkan banyak yang terisak-isak. Arifin sendiri terus menyeka air matanya yang terus menerus mengalir dengan dua saputangan yang dibawanya.
Arifin Ilham bersama Isteri
Namun, menurut Arifin, tangis bukan termasuk ritual zikir. Zikir pun, katanya, tidak juga sekadar duduk dan memanjatkan puja-puji kepada Allah SWT. "Yang terpenting dari zikir adalah, di dalam hati harus selalu ingat dan merasakan kehadiran Allah SWT," jelas ayah dua anak ini. Arifin membagi zikir meliputi empat hal.

Pertama, zikir hati senantiasa mengingat Allah dalam hati. Kedua, zikir akal, yang berarti mampu menangkap bahasa Allah dalam gerak alam semesta. Ketiga, zikir lisan, yang berupa ucapan asma Allah terjemahan dari kata hati. Keempat, zikir amal yang merupakan aplikasi takwa. Sedangkan anjurannya agar para jamaah zikirnya berbusana putih-putih, Arifin mengemukakan filosofinya. Putih, kata alumnus Fiskipol Unas ini, adalah warna yang melambangkan kesucian dan warna yang sangat disukai Rasulullah SAW.

Referensi :

- http://biografiustadzmuda.blogspot.com/2009/11/profil-ustadz-arifin-ilham.html
- http://mygodisone.blogspot.com/2009/07/biografi-ustad-arifin-ilham.html

Read More »