0 blogger-facebook
Biografi Abdurrauf as-Singkily - Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M - Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala).
Biografi Abdurrauf as-Singkily
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, syaikh untuk Tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta'wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.
Biografi Abdurrauf as-Singkily

Pengajaran dan Buah Karya-karyanya

Abdurrauf as-Singkily diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

Azyumardi Azra menyatakan bahwa banyak karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah:

  1. Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab. Karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
  2. Tarjuman al-Mustafid. Merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
  3. Terjemahan Hadits Arba'in karya Imam Al-Nawawi. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
  4. Mawa'iz al-Badî'. Berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak.
  5. Tanbih al-Masyi. Kitab ini merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
  6. Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud. Memuat penjelasan tentang konsep wahadatul wujud.
  7. Daqâiq al-Hurf. Pengajaran mengenai taswuf dan teologi.

Wafat Abdurrauf as-Singkily

Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrauf_Singkil
Rinkes, D.A., Abdoerraoef van Singkel: Bijdrage tot de kennis van de mystiek op Sumatra en Java. Ph.D. diss., Leiden, 1909.
al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Some Aspects of Sufism as Understood and Practised among the Malays. Penyunting oleh Shirley Gordon. Singapore : Malaysian Sociological Research Institute, 1963.
Adan, Hasanuddin Yusuf. Melacak Gelar Negeri Aceh, dalam website The Aceh Institute © Copyrights - 2007.
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Penerbit Kencana, Jakarta. Cetakan I, 1998.



Read More »

0 blogger-facebook
Biografi Abu Cot Kuta - Abu bakar bin Muhammad Ali lahir di desa Babah Buloh. Tahun kelahiran beliau tidak diketahui secara pasti, tapi menurut perkiraan beliau lahir dipenghujung abad 19. Ayah beliau berasal dari Meunasah Paloh wilayah Zelfbestuur Keureuto, sekarang berada di kecamatan Tanah pasir kabupaten Aceh Utara, Sebagai seorang pandai besi ayah beliau biasa disapa Utoh Ali dan sering berkeliling ke berbagai daerah untuk menjual hasil kerajinannya.

Biografi Abu Cot Kuta | Ulama Kharismatik AcehSeringnya beliau berjualan di Krueng Mane yang pada waktu itu masih berada di bawah Zelfbestuur Sawang, sehingga beliau berkenalan dengan Ampon Lutan (Ulee Balang Krueng Mane). Dalam satu dialoq Ampon Lutan berkata “anda jangan lagi berjualan kesini”, Utoh Ali bertanya: “apakah tidak boleh saya berjualan di negri tuan?” Ampon Lutan menjawab: “bukan tidak boleh, tapi tinggal disini saja”, Utoh Ali berkata: “asal ada tempat yang cocok, saya mau menetap dinegri tuan”. Maka Ampon Lutan meminta kepada adiknya yaitu Ampon Ubit

untuk mencarikan tanah untuk tempat menetap Utoh Ali. Ampon Ubit pun memanggil petua Gampong Teungoh untuk menempatkan Utoh Ali di Cot Kuta yaitu nama sebuah gundukan tanah di desa Babah Buloh wilayah Sawang.

Kemudian hijrahlah Utoh Ali ke Cot Kuta. Utoh Ali mempunyai dua orang istri, dari istri yang pertama yang berasal dari Cot Jabet - Gandapura dianugerahi tiga orang anak:

  1. Tgk Abu Bakar (Abu Cot Kuta)
  2. Tgk Majid
  3. Cut Aisyah

Dari istri yang kedua juga dianugerahi tiga orang anak:

  1. Tgk Syamaun
  2. Cut Hawiyah
  3. Tgk. M. Yusuf

Abu Cot Kuta (Tgk Abubakar) kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, sehingga beliau bersekolah Cuma seperdua masa belajar murid yang lain. Beliau bersekolah enam bulan kemudian diliburkan selama enam bulan, karena beliau sudah menguasai seluruh materi pelajaran dalam waktu singkat. Setelah tamat volkschool di Krueng Mane beliau mengaji ke dayah Tgk Ahmad Pulo Reudeup (Tgk di Lampoh, meninggal Nofember 1982) di Peusangan. Setelah merasa cukup mengecap pendidikan Dayah, beliau menikah dengan seorang gadis di daerahnya. Tapi setelah melahirkan seorang putra disaat umur bayi baru 15 hari sang istripun berpulang ke rahmatillah, bayi tersebutdiberi nama Tgk Hasan (lahir Rabu 4 Syakban 1349H/24 Desember 1930) dan dititipkan kepada adik beliau Cut Hawiyah.

Kemahiran beliau dalam mengarang syair merupakan alasan mengapa beliau sering menjadi syekh kesenian tradisional Meuseukat (sejenisRapa-i geleng), hal tersebut membuat ayah beliau marah, sehingga Utoh Ali mengancam anaknya untuk mengaji lagi hingga Alim, kalau tidak alim tidak boleh pulang. Maka merantaulah Tgk Abubakar ke Samalanga untuk mengaji di dayah Tgk Idris Tanjongan (kakek buyut dari Tu Subhiah, istri ayah Cot Trueng), beliau menetap di Samalanga 17 Rabiul Akhir 1/50/1 September 1931. Pada waktu itu Tgk Idris sudah uzur, sehingga Tgk Abubakar cuma membacakan kitab sedangkan Tgk Idris menyimaknya dipembaringan. Karena Tgk Abubakar sudah pernah mengaji sebelum ke Samalanga maka secara otomatis beliau menjadi guru pembantu (teungku rangkang) bagi gurunya. Setelah beberapa lama beliau menjadi teungku rangkang beliaupun mempersunting Cut Saudah binti Sabi (meninggal 13 Juni 1986) di Samalanga,dari perkawinan tersebut beliau memperoleh tiga orang anak:

  1. Cut Habsah ( lahir Minggu 4 Ramadhan 1352/21 Desember 1933 di Samalanga merupakan ibunda dari Tgk H M Amin bin M. Daud “Ayah Cot Trueng”)
  2. Tgk Husein ( lahir Senin 10 Jumadil Akhir 1354/8 September 1935 di Cot Seurani - Krueng Mane, sempat mengajike Krueng Kalee Aceh Besar dan ke JahoSumatra Barat, meninggal 24 Rabiul Akhir 1374/21 Desember 1954)
  3. Cut Halimah ( lahir Sabtu 4 Jumadil Akhir 1360/29 Juni 1941 di Cot Seurani - Krueng Mane, meninggal Oktober 2001)

Ampon Lutan ingin menempatkan seorang qadhi yang “cakap” di Krueng Mane, beliau bermusyawarah dengan adiknya yaitu Ampon Ubit mengenai siapa yang akan di jadikan sebagai qadhi. Maka Ampon Ubit mengusulkan untuk menjemput Tgk Abubakar di Samalanga. Maka Ampon Lutan menemui Ampon Chik Samalangauntuk meminta izin menjemput Tgk Abubakar yang sudah menjadi ulama diSamalanga, Ampon Chik di Samalanga pun mengizinkannya. Untuk membuktikan kepiawan Tgk Abubakar sebagai seorang ulama maka Ampon Lutan mengadakan perdebatan agama antara Tgk Abubakar dengan ulama setempat, mungkin pada tahun 1934. setelah terbukti ke”cakapan” Tgk Abubakar, Ampon Lutan pun menempatkan Tgk Abubakar sebagai Qadhi di krueng Mane serta membuka dayah di mesjid Krueng Mane (sekarangmesjid tua Krueng Mane di Cot Seurani).Maka terkenallah sebuah dayah salafi disekitar Lhokseumawe yang dikunjungi oleh santri dari berbagai daerah di Aceh. Menurut Prof Dr Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam diIndonesia halaman:176, dayah Tgk Abu Bakar Cot Kuta di Lhokseumawe merupakan salah satu dayah dizaman pembaharuan yang masyhur. Tapi walaupun berada dizaman pembaharuan Tgk Abu bakar masih menganut sistim lama, yaitu mengaji dengan cara menamatkan kitab satu persatu tanpa mengenal kelas dan kurikulum yang teratur sebagaimana sekarang. Sebagaimana adat di Aceh seorang ulama biasa dipanggil dengan “Abu” serta merangkaikan nama kampung dibelakang namanya, maka terkenallah beliau dengan Abu Cot Kuta. Murid beliau yang terkenal selama di Krueng Mane diantaranya TgkSulaiman (Abu Lhoksukon) dan Kiyai Hamid Paya Rabo.

Pemberontakan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng Bayu terhadap Jepang membuat Jepang curiga terhadap dayah- dayah di Aceh dan melakukan sweeping sehingga banyak dayah yang sepi, begitu pula dayah Abu Cot Kuta. Pada suatu sweeping tentara Jepang pernah menanyakan “apakah kitab yang diajarkan oleh Abu Cot Plieng sama dengan yang diajarkan disini?” Abu Cot Kuta menjawab “tidak sama, yangdiajarkan disana kitab kuning, sedangkan disini tidak seberapa kuning” Teror Jepang terhadap dayah-dayah di Aceh terus berlanjut hingga mematikan aktifitas belajar banyak dayah di Aceh, keadaan seperti itu membuat Abu Cot Kuta tidak betah lagi mengajar di Krueng Mane. Maka atas inisiatif Tgk Yahya (pimpinan Dayah Nashrul Mutha’allimin Ie Rhot Ulee Madon, Muara Batu) meminta kepada pemuka-pemuka kemesjidan Cot Trueng untuk membujuk Abu Cot Kuta agar mau pindah ke mesjid Cot Trueng, gayungpun bersambut, Abu Cot Kuta menyanggupinya.

Maka hijrahlah Abu Cot Kuta ke mesjid Cot Trueng, tapi beliau tidak mengizinkan dulu untuk mendirikan balai-balai sebagaimana layaknya sebuah dayah. Beliau Cuma mengajar dimesjid (sekarang “Mesjid Tuha” didirikan oleh Teungku Bentara Keumangan thn 1823 M) dan di balai bekas mesjid lama (sekarang “Balee Pusaka” didirikan tahun 1823 M), setelah setahun di Cot Trueng didirikanlah balai yang berkamar (sekarang Balee Puteh). Setelah situasi dianggap cocok maka pada tahun 1946 beliau meresmikan Dayah Raudhatul Ma’arif di mesjid Al-Akmal desa Cot Trueng kecamatan Muara Batu kabupaten Aceh Utara. Untuk ukuran masa tersebut jumlah murid yang mencapai 150 orang merupakan jumlahyang banyak, sehingga dayah Cot Trueng merupakan dayah yang maju dimasa itu. Diantara murid-murid beliau yang terkenal selama di Cot Trueng ialah Tgk Syafii Aron, Tgk M.Isa Peurupok dll.

Keterlibatan Abu Cot Kuta dalam dunia politik di mulai semenjak seruan Tgk M. Hasan (Abu Krueng Kalee) agar ulama dayah tergabung dalam PERTI (Persatuan Tarbiah Islam). Keaktifan beliau dalam PERTI sejak tahun 1957 hingga 1969, beliau merupakan ketua PERTI anak cabang (ranting) Muara Batu, sekaligus penasehat PERTI kabupaten.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, Allah telah memanggil Abu Cot Kuta kehadiratnya pada hari Minggu 16 Nofember 1969 M / 6 Ramadhan 1389 Hjam 11.00 pagi. Tidak ada yang tahu dengan pasti berapa umur beliau disaatmeninggal, tapi menurut perkiraan orang tua di Cot Trueng usia beliau ketika itu sekitar 70 tahun atau bahkanmungkin lebih. Nama yang harum telahdiukir oleh Abu Cot Kuta khususnya bagi masyarakat kecamatan Muara Batukarena semenjak tahun 30an hingga 1971 beliau merupakan lampu penerang umat sekaligus sebagai qadhidi kecamatan Muara Batu. Semoga arwah beliau selalu dalam limpahan rahmat Allah. Amien Ya Rabbal ‘Alamin.

Ditulis Oleh : Tgk Zulfahmi MR, staf pengajar di Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng,
Tulisan ini Berdasarkan Wawancara Dengan Utoh Hasan Cot Trueng (sahabat Abu Cot Kuta) dan Tgk A.Jalil Glee Dagang (menantu Abu Cot Kuta).

Read More »

0 blogger-facebook
Syekh Abdul Aziz bin Shaleh (Abon Samalanga) - siapa yang gak kenal dengan syaikh abdul Aziz samalanga, yang merupakan salah satu murid kesayangan Syaikh Muda Waly al-Khalidy. Ditangan beliaulah dayah (pesantren) Mudi Mesjid Raya samalanga sedikit demi sedikit berkembang, sehingga mencapai masa keemasannya ditangan syaikh Hasanoel Bashry Hg sekarang. Dalam postingan kita akan menelusuri lebih jauh tentang biografi syaikh Abdul Aziz (Abon Samalanga) dengan lebih detail.

Almarhum Tgk Abdul Aziz Bin M Shaleh (Abon Samalanga), merupakan tokoh yang cukup berpengaruh bagi masyarakat Aceh. Salah satu perannya adalah sebagai pimpinan Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesjid Raya) Samalanga, kabupaten Bireuen, sehingga mencapai kemajuan yang amat pesat.

Pimpinan MUDI Mesjid Raya yang baru mengembangkan pendidikan dayah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) tanpa meninggalkan pola asal pendidikan dayah yang kini memiliki santri sekitar 3.000-an.
Biografi Syaikh Abdul Aziz bin Shaleh (Abon Samalanga)
Majunya LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga tidak terlepas dari peran kepemimpinan Tgk. H. Abdul Aziz Bin M. Shaleh. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik Aceh yang sering disapa dengan sebutan Abon Samalanga atau lebih dikenal dengan panggilan Abon ‘Aziz Samalanga atau Abon Mesjid Raya Samalanga. Beliau lahir di desa kandang kecamatan Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Kini-Kabupaten Bireuen) pada bulan ramadhan tahun 1351 H/1930 M.

Abon diasuh dan dibesarkan di Jeunieb bersama kedua orang tuanya, ayahandanya pernah menjabat kepala kantor Agama (KUA) Jeuniub dan juga merupakan salah seorang pendiri Dayah ‘Atiq Jeuniub, sehingga Abon dari masa kecilnya sudah mulai belajar ilmu pendidikan agama di dayah tersebut dan Abon pada waktu itu tinggal di Jeunieb.

Ketika usia Abon telah matang, Abon menikahi seorang gadis di desa Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri dari gurunya sendiri yaitu pimpinan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesjid Raya) Samalanga pada waktu itu sehingga Abon dikaruniai 4 orang anak :

Putra putri Syaikh Abdul Aziz bin Shaleh (Abon Samalanga)

  1. Alm. Hj. Suaibah
  2. hj Shalihah
  3. Tgk H Thaillah
  4. Hj Masyitah.
Abon mulai belajar pada pendidikan formal pada tahun 1937 di sebuah sekolah Rakyat (SR) dan menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Dari tahun 1944 beliau belajar pada orang tuanya selama 2 tahun, kemudian pada tahun 1946 beliau pindah belajar ke dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk Haji Hanafiah (Tengku Abi) lebih kurang selama 2 tahun.

Pada tahun 1948 Abon melanjutkan pendidikannya ke dayah yang dipimpin oleh Teungku Ben (Teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah ini Abon belajar pada tengku Idris Tanjongan sampai dengan tahun 1949 dan pada tahun tersebut beliau kembali ke dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri menjadi guru di dayah tersebut.

Setelah abon mengabdi menjadi guru, beberapa tahun kemudian, tepatnya 1951 Abon melanjutkan pendidikannya ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan yang dipimpin oleh Alm. Teungku Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi yang lebih di kenal dengan panggilan Abuya Mudawali.

Abon Samalanga belajar di Dayah Darusalam lebih kurang selama tujuh tahun, dan pada pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan Dayah tersebut.

Abon Aziz Samalanga memulai karirnya sebagai pimpinan dayah mulai dari tahun 1958 sampai dengan tahun 1989. Semenjak dayah LPI MUDI Mesjid Raya berada dibawah pimpinannya, banyak perubahan terjadi didalamnya, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) ilmu manthiq, ushul, bayan, ma’ani dan lain-lain.

Akan tetapi kurikulum pendidikan yang lebih menonjol pada masa kepemimpinannya adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon di gelar dengan Al-manthiqi.

Abon sangat disiplin dan punya semangat yang luar biasa dalam mengajar, sehingga kadang-kadang dalam keadaan sakit beliau merasa sehat untuk mengajar, dan selalu mengamanahkan kepada murid-muridnya untuk belajar-mengajar (beut-seumubeut). Dalam pengajarannya, Abon sangat membenci faham wahabiyah sehingga beliau tidak pernah bosan dalam mengurai kesesatan faham tersebut.

Kemajuan MUDI Mesjid Raya

Kemajuan MUDI Mesjid Raya - Pada masa kepemimpinan Abon, kemajuan dayah MUDI Mesra semakin meningkat pesat, jumlah santri dari ratusan menjadi ribuan, bangunan fisik dayah pun juga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang terus maju. Selain dari aktifitas Abon di dayah, Abon juga membuka pengajian mingguan di Jeunieb (lebih dikenal dengan Balee Hameh) setiap seminggu sekali.

Di samping aktivitas dakwah melalui majelis pengajian, Abon juga ikut pembangunan fisik, seperti membangun jalan ke kebun di Desa Gle Mendong Samalanga dan menggarap sawah yang telah terlantar bertahun-tahun bersama-sama dengan murid-muridnya serta membantu masyarakat sekitar. Semuanya, ia lakukan untuk hidupnya perekonomian masyarakat.
Kemajuan MUDI Mesjid Raya
Abon juga pernah memberi dukungan kepada partai politik, yaitu partai PERTI, Abon memilih partai tersebut karena di latar belakangi atas faham ahlussunnah waljama’ah.

Ada satu pesan yang sangat sering diamanahkan kepada murid-muridnya yaitu belajar-mengajar (beut-seumubeut) dimana pun berada dan dalam kondisi bagaimana pun ketika telah pulang dari dayah nantinya, walaupun dengan sebuah balai di depan rumahnya. Pesan tersebut telah menjiwai dalam pemikiran murid-murid beliau, sehingga sekarang ini dapat terlihat dengan banyaknya dayah dan balai pengajian yang dipimpin oleh alumni Pesantren LPI MUDI Mesjid Raya.

Akhirnya, Abon dipanggil kembali kehadharat-Nya pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1409/17 Januari 1989 dengan tutup usia 58 tahun di Samalanga, dan jasad beliau dikebumikan di komplek putra dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga Kabupaten Bireuen.

Semoga Allah memberi pengampunan kepada beliau, menempatkan beliau dalam satu kebun daripada kebun syurga sesuai dengan amal baik yang telah beliau lakukan. Amiin !!

Read More »

0 blogger-facebook
Tips Memilih Tablet Android Harga Murah - Anda ingin membeli tablet android tapi kantong anda tidak tebal, tenang aja, anda bisa mendapatkan tablet berbasis android dengan harga yang cocok dengan kantogn anda. Namun, ingat kalau yang murah itu tidak sleamanya meriah.

Nah, agar kamu tidak 'beli kucing dalam karung', sebaiknya simak tips berikut sebelum membeli tablet murah meriah:
Tips Memilih Tablet Android Harga Murah

Tips Memilih Tablet Android Harga Murah

1. Display

Saat ini banyak tablet generik asal China yang menawarkan fitur capacitive display yang serupa dengan tablet di pasaran pada layarnya. Ingat! Teknologi capacitive itu menjadi pondasi dasar sensitivitas layar ketika disentuh. Jika setiap sentuhan dan sapuan jari direspon dengan lambat, sebaiknya pertimbangkan kembali untuk membeli tablet tersebut.

2. Resolusi Layar

Untuk tablet berukuran 7 inch sebaiknya kamu memilih yang beresolusi 1.024 x 768 untuk tampilan gambar yang lebih jelas, kalau resolusinya dibawah itu, kamu pasti meneysal nanti, pertimbangkan lagi. Sementara untuk tablet dengan resolusi 800 x 480 saat ini sudah tidak memadai untuk kenikmatan mata, sekalipun dalam layar smartphone yang lebih kecil.

3. Kekuatan Performa

Jika ada tablet yang menawarkan prosesor di bawah 1 GHz, sebaiknya urungkan niat kamu untuk memilikinya. Pasalnya, beberapa aplikasi Android saat ini sudah sangat RAKUS tenaga. Untuk RAM saja, setidaknya sebuah tablet itu harus memiliki dapur pacu 1GB untuk bisa berjalan di OS Android 4.0 Ice Cream Sandwich. Jika tidak, performa tablet akan 'terseok-seok' ketika digunakan. Anda pasti naik darah menunggu dia bekerja.

4. Ketersediaan Update

Perimbangkan untuk membeli tablet yang memiliki fasilitas updatenya, agar kamu tidak merasakan yang itu-itu saja, tetapi bisa upgrade ke level yang lebih tinggi.

5. Konektivitas

Demi memangkas harga jual, banyak tablet di pasaran meniadakan fitur koneksi 3G dan hanya mengandalkan WiFi. Bahkan, vendor sekelas Apple pun memberlakukannya di varian iPad. Hal ini dikembalikan lagi kepada kebutuhan kamu, apakah selamanya ingin bergantung kepada jaringan hotspot sekitar atau leluasa dengan jaringan 3G operator.

6. Purna Jual

Sebaiknya pilih tablet yang memiliki jaringan purna jual yang bisa dipertanggungjawabkan. Diteliti pula sejauh mana vendor akan memberikan pergantian terhadap kerusakan tablet yang dibuatnya.

Read More »

0 blogger-facebook
Tips Lolos dari Jebakan Scam di Facebook - Karena faecook merupakan situs jejaring sosial terbesar didunia maka facebook rentan dan bahkan menjadi ladang bagi penyebar scam atau penjahat cyber. Mari kita Simak jurus singkat agar tak terjebak aksi tipu-tipu dan penyebaran malware (program jahat) tersebut.

Menurut perusahaan sicurity Eset, banyak korban akhirnya terinfeksi trojan, virus, dan malware lainnya dengan awal yang sama yaitu diiming-imingi scam Facebook.

"Diperlukan perhatian dan pemahaman yang lebih saat kita melihat iming-iming scam di Facebook,"
Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT. Prosperita-Eset Indonesia.

Ia menambahkan, Kejahatan scam di Facebook bisa dengan mudah menyebar dari dinding ke dinding. Dan scammer akan melakukan segala cara yang bisa dilakukan dari yang sudah umum hingga yang cukup kreatif.

"Dampak scam Facebook berbeda-beda, sebagian besar scam akan berujung pada iklan obat kuat, tetapi, ada di antaranya scam yang benar-benar berbahaya dari yang dapat mencuri ID Facebook hingga menguras dompet Anda,"
pungkas Kukuh.

Berikut Tips Lolos dari Jebakan Scam di Facebook


1. Jangan melakukan aktifitas (mengklik gambar, dan lainnya) saat kita lihat ada sesuatu yang mencurigakan. Misalnya tiba-tiba teman memposting sebuah gambar syur yang berani. Hati-hati lhoo

2. Berpikir, jika masih ingin tahu lebih lanjut. Pikirkan apakah teman kita memang punya kebiasaan posting hal itu? Cek apakah berita atau gambar itu benar, telepon/sms/chat langsung dengan yang bersangkutan. Bila itu iklan, cek via portal berita terpercaya menyangkut kebenaran berita.

3. Lanjutkan klik bila memang benar teman yang memposting atau berita itu valid.

4. Aktifkan aplikasi Facebook scanner untuk antisipasi, aplikasi ini akan melakukan scanning seluruh wall kita untuk memastikan aman.

5. Gunakan produk Anti-vrus dengan update terkini, realtime, ringan dan mampu menangani permasalahan jejaring sosial. Pastikan Anda dapat berdiskusi dengan Support produk jika mengalami permasalahan.

Read More »

0 blogger-facebook
6 Kebiasaan Menghilang Gara-Gara Facebook - Facebook benar-benar jejaring sosial yang paling digandrungi banyak orang, mulai anak-anak, remaja bahkan orang tua juga tidak ketinggalan dengan facebook. Facebook selalu menjadi teman bergaul dimana-mana. Walaupun facebook bukan situs jejaring sosial pertama, akan tetapi pengaruh facebook dalam kehidupan manuisa kian terasa.

Saking banyaknya pengguna facebook, sampai ada yang memberi umpama, andaikata facebook adalah sebuah negara, maka ia akan menjadi negara terbesar ketiga didunia. Begitulah kira-kira yang dikutip dati detikinet.com.
6 Kebiasaan Menghilang Gara-Gara Kedatangan Facebook
Kehadiran facebook ditengah-tengah kehidupan bermasyrakat sangat signifikan sekali. Kendati saat ini pamor Facebook sedikit meredup dan kegagalan layanan ini mengangkat penampilannya di lantai bursa, tak bisa dipungkiri bahwa Facebook mempunyai efek domino terhadap kehidupan dan cara bergaul dalam masyarakat.

Menurut situs Mashable Senin (28/1/2013), setidaknya ada beberapa efek yang dirasakan saat Facebook hadir, baik itu di dunia maya ataupun di dunia nyata. mari kita lihat ulasannya.

1. Berkurangnya Instant Messaging
Hadirnya facebook telah merubah sedikitnya gaya hidup masyarakat yang semula doyan dengan instant message, tapi kini instant message mulai ditinggalkan. Ini terjadi karena facebook telah menajdi pengganti instant message, disampping banyak juga jejaring sosial lain yang berfungsi serupa, seperti twitter.com

2. Mengubah sistem kerja perusahaan

Saling berteman dengan rekan kerja di Facebook, memang mengikis sekat antara sesama pekerja, bahkan mungkin dengan atasan. Hal ini berimbas postif dalam soal peningkatan kerja.

Karena faktanya, perusahaan khususnya start-up menggunakan Facebook untuk saling terhubung satu sama lain untuk membicarakan pekerjaan secara berkelompok.

Bahkan terkadang, Facebook juga dijadikan alat untuk interaksi antara perusahaan dengan konsumennya. Hal ini biasa dilakukan untuk mengetahui reaksi dari pelanggan terhadap suatu produknya.

3. Album Foto

Zaman dulu setiap poto yang dijepret atau di capture akan dicuci dan disimpan dalam album photo. Nah, berkat kecanggihan era digital pula secara perlahan album foto kini mulai tergantikan dengan Photo Album di Facebook.

4. Buku tahunan

Menurut hasil penelitian survei, buku tahunan (yearbooks) di Amerika Serikat mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Ini memang tak terlepas dari Facebook yang makin populer tiap tahunnya. Yearbooks di Negeri Paman Sam memang banyak digunakan oleh siswa yang baru saja lulus dari tempat sekolahnya. Buku tahunan ini sangat berguna untuk mencari dan menghubungi kawan lama.

5. Undangan pesta di facebook

Dengan banyaknya aktifitas kita difacebook, kini facebook pula menjadi pilihann sebagai pengganti undangan yang dicetak dan dikirim. Fcaebook kini menjadi media untuk pengiriman undangan buat acara pesta dan lain-lain.

Tak ada lagi kartu atau pesan yang biasa dikirimkan, atau undangan yang terlewatkan saat rekan Anda mengirimkanya melalui Facebook. Apalagi, setelah layanan ini menambahkan fitur pengingat sebelum hari H.

6. Reuni Keluarga, dll

Sejak Facebook merambah pengguna hampir semua usia, banyak orang merasa terbantu menemukan orang yang sudah lama kehilangan kontak, seperti teman saat di sekolah.

Maka berangkat dari situlah, kegiataan reuni mulai tumbuh lagi. Mungkin beberapa dari Anda pernah melihat orangtua atau bahkan kakek-nenek yang mulai rajin bertemu dengan kawan-kawan lamanya.

Read More »

0 blogger-facebook
Biografi Cut Nyak DhienBiografi Cut Nyak Dhien - The Hero From Aceh - Semua anda mungkin pasti telah kenal dengan seoran gpahlawan wanita dqari Aceh yang merupakan Isteri dari Teuku Umar Johan Pahlawan. Mungkin semenjak SD kita telah mengenal beliau melalui buku-buku pelajaran yang diajarkan di sekolah. Namun, tahukan anda bagaimana sebenarnya biografi cut nyak dhien ini, mari kita simak bipgrafi beliau berikut ini.


Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848, seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh, Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.
Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya). Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orang tuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka memiliki satu anak laki-laki.

Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus. Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit. Lalu, pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Cut Nyak Dhien yang melihat hal ini berteriak:

"Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?"

Kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Köhler tewas tertembak pada April 1873.

J.B. van Heutsz sedang memperhatikan pasukannya dalam penyerangan di Perang Aceh
Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875. Suaminya selanjutnya bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.
Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak. Namun, karena Teuku Umar mempersilakannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Hal ini membuat meningkatnya moral semangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). Nantinya, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar memiliki anak yang diberi nama Cut Gambang.

Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Bahkan, Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dhien dan memakinya. Cut Nyak Dien berusaha menasehatinya untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda. Umar lalu mencoba untukmempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar). Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya, dan juga mengejar keberadaannya. Dien dan Umar terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas.

Unit "Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Selain itu, kebanyakan pasukan "De Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya. Akibat dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van der Heyden membubarkan unit "De Marsose". Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.

Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian ayahnya, ia ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya dan berkata:

“ Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid”

Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh. Selain itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulitnya memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya.

Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Cut Nyak Dhien ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Dhien dipindah ke Sumedang berdasari orang terakhir yang melindungi Dien sampai kematiannya. Namun, Cut Nyak Dhien memiliki penyakit rabun, sehingga ia tertangkap. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Sayangnya, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda. Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu". Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. "Ibu Perbu" diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964

Referensi :
- http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/09/biografi-cut-nyak-dhien-pahlawan.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien

Read More »